Rumah Sakit Sarah, 4 maret 2010. Anak ke Dua kami lahir dengan berat 3,1 kilogram dan panjang 4,9 cm. Berjalan Normal dan Alhamdulilah sehat. Kami beri nama Ia Akram ifni Zein Lubis. Diambil Dari nama opung dan nenenya. Abangnya Fathan Ifni Adha Lubis.
Lahir pada 7 Desember 2008 tepatnya hari raya idul adha. Awalnya memang kami sepakat untuk tidak menunda kehamilan untuk yang ke dua, sehingga saya pribadi tidak begitu kaget saat mengetahui kehamilan saya lewat tespeck, padahal umur
Fathan masih 7 bulan, Fathan tetap saya beri Asi, dan saya sama sekali tidak khawatir karena saya sudah mendapatkan info dari majalah bulanan yang berfokus pada kehamilan, isinya memudahkan saya untuk lebih siap pada kehamilan selanjutnya.
Dari segi fisik saya sudah dapat meramalkan yang akan terjadi, dari mual-mual, cepat lelah dan mudah mengantuk. Namun kami khususnya suami saya agak khawatir, si kaka akan kehilangan perhatian dari sang mama, walaupun saya sering jelaskan dengan sok tau hanya karena ingin menenangkannya, padahal saya sendiri dalam dilemma besar bahkan lebih khawatir apakah saya tetap bisa memandikan, dan memberinya makan atau rutinitas lainnya. Semua mengenai anak, saya pastikan sayalah yang turun langsung, walaupun kami punya asisten handal, dengan keahlian serba bisa loch!
Saat hamil yang ke dua, saya tidak terlalu mengalami tanda-tanda kehamilan pada umumnya, mungkin saya sedang menikmati kebersamaan yang menyita waktu dan tenaga untuk mengurus anak tanpa sang nenek. Untunglah bekal bacaan yang saya dapat dari sedikit buku banyak membantu, minimal saya tidak merasakan malangnya menjadi Ibu, karena jauh dari Keluarga saya sendiri. Kebetulan saya merantau, ikut suami tugas. Emosi saya jelas terombang ambing justru bukan karena saya hamil anak ke dua, tapi si Kaka berubah drastis, dari yang anteng digeletakin jadi sering mendadak rewel. Padahal sudah saya pastikan dia kenyang, tidak pub, celana kering dan sudah saya ajak bermain cilukba, pokoknya apapum saya lakukan sampai pada bernyanyi dan bicara sendiri untuk menemani Fathan.
Usaha kadang sukses tapi banyak nggaknya, makin bertambah usia kehamilan semakin banyak tingkahnya yang saya tidak mengerti. Banyak tetangga bilang, memang sewajarnya, sang Kaka akan mengalami perubahan, kalau bahasa medannya, lebih memkek, dan banyak kali tingkahnya mungkin hanya untuk ditemanai dan mau digendong, Sebelumnya tidak begitu, Malah banyak yang bilang anak saya Si Baik budi, anteng ketika ikuti seminar dan di Pengajian tidak rewel sama sekali.
Fathan sering meminta digendong ketika melihat bayi tetangga di jemur, makan maunya keliling komplek, dan menangis bila melihat tubuh saya perlahan meninggalkanya, walau hanya untuk ambil minum. Akhirnya, saya tidak mudah beraktifitas. Si mba mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah, kegiatan saya tersita pada Sang Kaka.
Untung suami saya dapat memakluminya. Dia cenderung memaksa saya lebih memperhatikan Sang Kaka, walau sebenarnya Si Kakak bisa tidur sendiri tanpa harus di gendong dan di belai, Suami malah sering memastikan si Kaka tidur pulas di sisi saya, yang sedang hamil ini dan itu terjadi hampir setiap hari sampai kandungan kehamilan saya berusi sembilan bulan.
Terkadang saya merasa kehilangan perhatiaanya, suami lebih peka pada perkembangan emosi anak pertamanya dibandingkan isterinya. Namun saya tetap berpikir positif. Suami siap siaga mengantar ke Dokter untuk memeriksa kandungan. Sebab itu saya lega. Toh suami pasti sudah memikirkan yang terbaik tentunya.
Melahirkan fathan amat sangat singkat untuk ukuran anak pertama laki-laki, karena yang saya dengar dari pengalaman Ibu-ibu komplek, biasanya hamil anak pertama agak lama merasakan sakit di pinggul dan waktu melahirkan bisa satu hari penuh, 8 jam atau bahkan lebih, bahkan ada yang sangking lamanya perlu di induksi terlebih dulu untuk merangsang rasa mules itu. Hal itu terjadi dari pembukan pertama ke pembuakan ke sepuluh.
Saya di berikan anugerah melahirkan cepat, sekitar 3 kali mengejan lalu lahirlah si Kaka. Memang Rasa mules itu sudah ada dari pagi tapi tak terpikir oleh saya untuk melahirkan, karena perkiraan dokter tanggal 20 an, ternyata lebih maju. Isya sekitar pukul 7 lewat 45 menit malam itu, saya bergegas kerumah sakit setelah keluarnya flek darah, dan jam sembilan lewat saya melahirkan. Begitu pun Akram semua proses alhamdulilah cepat. Saya mengalami sakit yang luar biasa tapi semua cepat berlalu, Hari itu Pagi, dan saya sudah melihat Akram pada sore harinya untuk saya susui. Fathan tidak nampak Pikiran saya meraung entah kemana, memikirkan sang Kaka tercinta, Saya heran, kenapa saya merasa bersalah dan begitu amat mengkhawatirkan Fathan. Padahal sudah saya ramalkan sebelumnya, hal-hal yang akan terjadi.
Saya di berikan anugerah melahirkan cepat, sekitar 3 kali mengejan lalu lahirlah si Kaka. Memang Rasa mules itu sudah ada dari pagi tapi tak terpikir oleh saya untuk melahirkan, karena perkiraan dokter tanggal 20 an, ternyata lebih maju.
Sayapun cepat menelphon untuk memastikan, Fathan sedang ngapain?, apakah dia sudah makan?, apakah dia sedang tidur?. Yang Seharusnya saya beristirahat malah saya sibuk telephon kerumah untuk ngobrol ama si Mba.
Saya terus menatap Hp, yang isinya gambar-gambar Fathan dari bayi, lucu sekali, Saya merasa cemburu pada Sang Kaka terlalu asik bermain dengan siapa saja. Saya merasa haruslah saya yang mengajaknya bermain padahal semua itu akan berubah tidak seperti dulu. Saya jadi bingung kenapa semakin dipikirkan semakin sedih, padahal ini awal yang harus dilewati dengan semangat, biasanya bagi ibu yang baru melahirkan akan mengalami babyblues, mungkin pikiran saya ada hubungnan dengan itu sayapun cepat mengalihkan pikiran, saya lebih mengutamakan bagaimana memulihkan kondisi fisik terlebih dahulu.
Setelah beberapa jam istirahat, fathan pun datang di gendong Ayah, yang dari pagi juga sudah bula balik, menemani saya di rumah sakit. Fathan layu tak biasanya dia amat pucat, saya langsung menanyakan keadaan si Kaka, benar ternyata Fathan flu, dan panas, kami berencana dua malam untuk menginap di RS Sarah. Fathan ikut menginap Dua Hari bersama saya di Kamar yang tidak terlalu luas, Kelas sedang. Fathanpun drastis turun staminanya, Suami membawanya berobat pada Dokter Anak di tempat yang sama. Kata Dokter sakit demam biasa, saya sudah yakin ini factor dari kecemburuannya pada dede bayi yang akan jadi adiknya dirumah.
Fathan belum bisa bicara, pastinya saya tau maksudnya, dengan teriak-teriak, bahwa dia merasa iri, karena saya kerap kali memeluk Akram untuk saya susui. Wah mental saya berubah jadi teri, kalau fathan jadi begini terus setiap kali menyusui Akram, saya tak bisa melupakan kejadian hari terakhir kami harus pulang kerumah, begitu kasiannya si Kaka karena sepanjang perjalanan pulang kerumah dari Rs Sarah, menangis histeris.
Saya putuskan untuk menukar fathan pada saya, ditengah perjalanan, si mba pun menggendong Akram, Fathan saya dekap di bangku depan. Air mata saya tumpah ruah, rasa bersalah itu kembali muncul. saya lagi-lagi pesimis apakah mungkin saya bisa membagi waktu untuk mengurus ke dua anak saya.
Saya putuskan untuk menukar fathan pada saya, ditengah perjalanan, si mba pun menggendong Akram, Fathan saya dekap di bangku depan. Air mata saya tumpah ruah, rasa bersalah itu kembali muncul. saya lagi-lagi pesimis apakah mungkin saya bisa membagi waktu untuk mengurus ke dua anak saya.
Fathan terlihat murung bila menatap saya, seolah-olah ingin terus diperhatikan. Tangan diangkatnya setingi-tinginya, menunjukan minta di gendong, wajahnya melas sekali. Ibu mana yang tidak terguncang melihat sang Anak memelas dengan menangis keras atau kata orang ngejenger, tapi saya tak kuasa karena Akram pun ikut menangis. Saya terpaksa mendahulukan sang Adik.
Fathan sakitnya semakin parah, badannya terus turun beratnya. Saya mulai risau. Apalagi setiap kali saya menyusui Akram sang Kaka mendadak menangis. Sambil menyusui sering sayapun menangis, dan melihat lagi-lagi sang Kaka memohon untuk di gendong,
bujukan sang Ayah awalnya tidak mempan, tapi perlahan Fathan mau di gendong Ayahnya, namun pada pagi harinya, suami saya harus bekerja, sehingga kejadian itu terus berulang, si mba tidak mudah membujuk sang Kaka, bila saya harus menyusui, atau mengganti popok.
bujukan sang Ayah awalnya tidak mempan, tapi perlahan Fathan mau di gendong Ayahnya, namun pada pagi harinya, suami saya harus bekerja, sehingga kejadian itu terus berulang, si mba tidak mudah membujuk sang Kaka, bila saya harus menyusui, atau mengganti popok.
Fathan sengaja dipisahkan sementara.
Fathan sering dibawa ke tetangga untuk di umpetin atau dijauhkan dari saya, karena saya harus urus Akram terlebih dahulu, syukurnya, ada Bidan yang membantu memandikan sampai tali pusatnya putus. Jadi masih aga ringan. Setelah saya selesai menyusui, saya harus membujuk, mengajak bermain, memberi makan, Sang Kaka, Badan saya sering merasa pegal amat sangat, sampai urusan mengurus badan saya tidak punya waktu, Padahal seharusnya harus banyak istirahat dan harus diurut pasca melahirkan. Saya tetap masih bisa meggendong, bayangkan saja padahal habis dijahit, tentu tidak boleh banyak bergerak. Tapi Alhamdulilah, saya dapet info ternyata semakin cepat bergerak semakin cepat pulih.
Stamina saya pun di uji.
Saya terguncang, hingga sering menggigill hampir setiap malam, karena sering kelelahan yang menyebabkan lupa makan.
Bangun tiap malam, belum lagi membujuk Fathan makan. Menemani fathan bermain, semua itu seraya membayar kesalahan saya semata. Saya dihantui rasa bersalah. Saya juga sering menangis tengah malam, dan memandang sang Kaka yang sudah terlelap tidur. “Fathan maafin umi yah, umi janji kasih sayang umi tidak berpihak pada siapapun, umi sayang ko sama abang fathan.” Bisik hati kecil saya,
Saya merasa tidak Adil pada Fathan, dan hari terus berlalu. Fathan sudah kebal sepertinya, saya masih dapat meandikan ke duanya, namun kadang saya tak punya waktu untuk memberinya makan yang berubah jadi aksi tutup mulut, karena lama sekali. Setelah konsultasi, itu hal yang wajar.
Bangun tiap malam, belum lagi membujuk Fathan makan. Menemani fathan bermain, semua itu seraya membayar kesalahan saya semata. Saya dihantui rasa bersalah. Saya juga sering menangis tengah malam, dan memandang sang Kaka yang sudah terlelap tidur. “Fathan maafin umi yah, umi janji kasih sayang umi tidak berpihak pada siapapun, umi sayang ko sama abang fathan.” Bisik hati kecil saya,
Saya merasa tidak Adil pada Fathan, dan hari terus berlalu. Fathan sudah kebal sepertinya, saya masih dapat meandikan ke duanya, namun kadang saya tak punya waktu untuk memberinya makan yang berubah jadi aksi tutup mulut, karena lama sekali. Setelah konsultasi, itu hal yang wajar.
Perubahan mulai datang.
Setelah beberapa bulan Akram lahir saya meliha Fathan agak berubah,
Dia mulai tersenyum bahkan tertawa sendiri melihat tingkah adiknya yang mulai ngoceh. Kadang badan adiknya di belay, walau sering untuk di pukul bahkan pernah saya dapati dia menutup muka sang adik dengan bantal. Hal yang mungkin sangat menyeramkan, tapi saya tetap mengawasi dan tak pernah saya tinggal berdua walau hanya sebentar.
Dia mulai tersenyum bahkan tertawa sendiri melihat tingkah adiknya yang mulai ngoceh. Kadang badan adiknya di belay, walau sering untuk di pukul bahkan pernah saya dapati dia menutup muka sang adik dengan bantal. Hal yang mungkin sangat menyeramkan, tapi saya tetap mengawasi dan tak pernah saya tinggal berdua walau hanya sebentar.
Hari itu Sang Kaka menunjukan respon yang sangat berbeda. Dia begitu terlihat
menyayangi, adiknya, fathan suka mencium adiknya seperti saya dan suami lakukan, Bahkan Pernah sesekali Adiknya Tidur, dan saya bernyanyi untuk mengajak Fathan bermain, Fathan malah diam lalu melihat adiknya yang sedang tidur dan mengangkat telunjuknya kearah mulutnya, untuk menyatakan “sssst” maksudnya janganberisik, spontan saya tertawa. Iya sang Kaka sudah mulai, bijak..
menyayangi, adiknya, fathan suka mencium adiknya seperti saya dan suami lakukan, Bahkan Pernah sesekali Adiknya Tidur, dan saya bernyanyi untuk mengajak Fathan bermain, Fathan malah diam lalu melihat adiknya yang sedang tidur dan mengangkat telunjuknya kearah mulutnya, untuk menyatakan “sssst” maksudnya janganberisik, spontan saya tertawa. Iya sang Kaka sudah mulai, bijak..
Ya Allah. Aku terharu, ternyata Fathan sudah mulai sayang dan perhatiam, walau kadang dia sering ingin memukul, dan menarik tangan adiknya, ternyata rasa sayang itu mulai tumbuh.
Tapi hati-hati, pokoknya harus waspada juga, hilang dari pandangan, Fathan suka iseng tangannya, dari menarik sampai memasukkan jari kemulutnya atau matanya. sering gregetan, tapi terkadang fathan tertawa sendiri melihat adiknya ngoceh, saya juga suka mendapati fathan sedang menarik tangan adiknya, karena dia tidak suka, adiknya isep jempol, “mungkin takut kesaing jago isep jempolnya kali. hehehe!”
Makin lama, fathan semakin mandiri, saya jadi tidak khawatir lagi, bahkan sudah pintar mengajak adiknya, ngobrol, padahal fathan belum bisa ngomong dengan baik, tak apalah, yang penting acara nangis yang memilukan, sudah jarang sayapun semangat beraktifitas, sampai sekarang fathan menunjukkan kemajuannya. Semakin bijak dan lebih bisa di bujuk si mba. Kemandirian untuk main balok sendiri malah sudah ditunjukan. Wah saya tambah senang, tapi tetap saya yang bertugas untuk bermain bersama. Kini usia adiknya beranjak 6 bulan, dan sang Kaka beranjak 1 tahun 9 bulan. Adiknya, sudah bisa tengkurap, bolak balik, guling-gulingan. Kakanya malah tambah pintar main sediri, menyusun balok, melempar bola dan buka tutup kulkas, memegang pensilpun sudah lihai. Fathan jarang menangis untuk minta digendong kalau bukan ngantuk. Tugas saya membuat susu dan menempakannya ditempat tidur, selimut buluknya harus selalu disampingnya, sekejap dia pun tidur dengan pulas sambil membelai selimut kesayangannya, ngelinting biasa kami sebut. Walau terkadang datang, masa cengengnya, saya tak lagi khawatir.
Fathan makannya juga mulai lancar, tidak ada acara lepeh melepeh, badannya mulai naik, perutnya tidak kempis lagi, Imunisasi sengaja dijadwalkan bareng, inilah keuntungan anak terlalu dekat usianya, semua bisa serba dibarengkan. Memang lelah luar biasa, tapi banyak serunya.
Saya juga tidak terlalu memikirkan berat badan, karna kenikmatan mengurus anak membuat badan saya turun dengan sendirinya, banyak nikmat yang saya dapat, saya juga belajar banyak dari si Kaka, ternyata dia melatih kesabaran, serta konsistensi saya yang sengaja berniat punya anak lagi, dia membuat saya belajar trik untuk adil, dan melatih mental saya.
Saya juga tidak terlalu memikirkan berat badan, karna kenikmatan mengurus anak membuat badan saya turun dengan sendirinya, banyak nikmat yang saya dapat, saya juga belajar banyak dari si Kaka, ternyata dia melatih kesabaran, serta konsistensi saya yang sengaja berniat punya anak lagi, dia membuat saya belajar trik untuk adil, dan melatih mental saya.
Fathan sungguh kaka yang baik budi, tingkahnya kadang jadi sok dewasa, yang suka melarang adiknya untuk ngedot. Saya terharu dibuatnya, bagaimanapun Fathan akan menjadi abang si Akram, semoga kami terus bisa Adil.
Saya sangat bersyukur atas anugerah yang diberikanNYA, Allah Maha tahu yang kita butuhkan, dan pasti memberikan yang terbaik walau terkadang bukan yang kita inginkan.
By Mia susilawaty



mbak,, semangat!!
BalasHapusayo,, mana tulisan lainnya ?!?!
^^
iya semangatnya kadang kaya kereta api kadang mogok...terimakasih baru liat lagi...nih
BalasHapus