about me

...Story of Children, life n friends. Keep open your mind to see the bright side..

Sabtu, 03 November 2012

Lahirnya Dia si Buah Hati


Lahirnya Dia si Buah Hati
            Tepat hari ini adalah Idul Adha, sudah lama aku persiapkan hidangan apa yang akan disantap, seperti lontong dan sayurnya, tak lupa sajian lain yang menambah nikmatnya hari yang membahagiakan itu khususnya untuk umat Islam. Dimana pembuktian kesabaran seorang Ayah terpatri di kalbu setiap insan yang beriman.
            Kemandirianku terus terasah dengan sendirinya, jauh dari orang tua bukanlah pilihan tapi keharusan yang kujalani untuk menemani Ayahnya yang bekerja di Labuhan Delli, Belawan Sumatera Utara. Ku sengaja bangun lebih pagi, karena sudah niat untuk pergi ke Simpang Limun, Pajak atau biasa disebut Pasar karna orang medan terbiasa dengan kata Pajak. Telingaku tetap terbiasa dengan kata Pasar. Aku naik beca goes atau Dayung, agak aneh buatku yang lama tinggal di pulau Jawa yaitu Tangerang perum 2 Karawaci. Sebutan Pajak itu tak pernah ku dengar justru Pajak itu adalah pembayaran rutin untuk membentu pemerintah meningkatkan pembangunan, “oalah entah kenapa Pajak berubah jadi Pasar”, aku melangkah dengan mantab untuk membeli bahan sayur yang akan diolah Asistenku di rumah yaitu si mba Nur, dari rumah ke pajak sekitar 10 ribu, belum lagi tip menunnggu, total 20 ribu.
“Lebaran ini aku tak bisa pulang Mah, karna cucumu akan Lahir tanggal 20 Desember nanti.” Bisik hati yang merintih ini.

Pagi tiba-tiba mules lalu sampe kamar mandi hilang. Mules itu kian sering tapi tak lama berhenti sesaat, aku pun sampai di Pajak SL (Simpang Limun) Langsung kuraih tukang Jualan dengan semangat.
“Bang, beli ayam 2 kilo yah, berapa”
“biasa aja ka’ Cuma 22 ribu.” Sambil memotong ayam yang berceceran di mejanya dan melayani Pembeli lain yang terus berdatangan.
“Ah ga biasanya itu, ku beli baru semalem 16 ribu, kan nampak wajah ku semalem kan Bang.” Sengaja ku memakai logat khas Medan seolah aku terbiasa membeli padahal jarang juga, biar keliatan lebih akrab.
“Aduh ka’ ini hari raya pantas lah kalau naik sikit.”
“Kurangi ya BANG, 18 RIBU CEM MANA?” Dengan gaya santun tapi harus pake maksa biar dikasih. “Ga, ga lah ka’ ga dapet untung nanti aku, coba kaka cari yah didalem sana, sekarang kukasih 20 ribu kalau kaka dapet di dalam kurang dari 20 ribu, kembalikan ini ayam.” Tegas si Tukang ayam. “Okelah kalau begitu, iih si abang ama langganan aja loh.” Ku kasihlah uangnya, ga papa deh namanya juga usaha menawar.
Makin kedalam ternyata makin murah harganya, Harga Ayam memang Abang itulah andalanku, karna dia tak berdusta tentang harga dan sudah terbukti.
Aku kembali mules,“wah ini pasti mau buang air besar.” gumamku yang telah was-was dan merasakan keanehan rasa mules yang silih berganti dengan pegal di pinggul. Perut yang besar dan tetengan di kanan kiri tanganku, membuat badanku semakin berat ku bawa. Pelan-pelan tetap ku fokuskan pada pandangan kedepan, ku cari tukang becak yang sedang menunggu, duduk di becaknya.
“Bang, ayo balik kerumah lagi.”
“ka’, nampaknya besar ya ka’ udah berapa bulan rupanya?” sang tukang beca memperhatikan perutku, saat meraih belanjaan yang ada di tanganku, dia tak sungkan bertanya karna aku terbiasa pergi diantar becak dayung ke luar komplek.
“Udah 9 bulan Bang, tinggal nunggu hari nih.”
“Wah anak pertama yah, kayanya perempuan. Nampak dari wajah kaka.”
“Ah sok tau ni Abang, wong udah usg anak gw laki-laki tulen, hhehe.” Aku ketawa dalam hati, karna ni Abang begitu PD nya, menilai hanya dari bentuk wajahku. “oh iya ya Bang, masa sich, tapi doain aja laki-laki ya Bang.” Tetap ku merendah hati, karna tak tega menghancurkan ke PD annya. Selama perjalanan pulang rasa mules kembali hebat mengguncang perutku, tapi masih bias kutahan dengan mengobrol dengan si Abang yang polos dan baik itu, aku melewati perumahan kampung, dan hampir setiap rumah dihiasi aneka macam pohon hias, dan tanaman bunga.
Sesampainya dirumah. Dia pun meluncur menghilang dari pandangan, aku langsung tancap gas buru-buru menuju singgasana memuaskan si pengguna alias Toilet mungkin itulah surganya bagi yang mau buang hajat apalagi kebelet luar biasa seperti yang kurasakan. Aku sudah tak menghiraukan lagi, barang belanjaan yang berada di depan pintu belakang rumah geletakan begitu saja.
“bu baru pulang waduuh hati-hati bu, ko buru-buru” spontan sang Asisten.
“aduuuh iya nih…tolong rapiin ya nur…”
Rumah kami punya 2 pagar dan 2 pintu, depan dan samping, kami punya halaman yang lumayan luas untuk 2 parkir mobil, untuk ukuran pasangan muda yang baru menikah rumah itu terlihat luas, tapi aku harus tinggal campur dengan keponakan dan ade ipar, satu lagi pembantu sang asisten yang setia menemaniku di rumah.
“Assalamualaikum….aduh udah ga tahan ni mau pub….” Aku masuk kamar yang memang sudah ada kamar mandinya, kulihat abang tersayang sedang duduk bersender nonton tv. 
Plung “Ah….leganya” tentu celoteh dalam hati, tidak mungkin terucap, malu ah sama Abangkyu.
 Lagi-lagi mules hebat, aku masih terus sibuk, karna beberapa hari yang lalu, ku pesan lontong 20 batang pada ibu yang biasa jual nasi uduk, tempatnya tak jauh dari komplek, sekitar 50 langkah dari rumahku. “akung mau kemana lagi, tapi kan baru pulang…hati-hati jangan lariii..”sesegera mungkin sambil pegang perut gendut ini. “iya bang nanti yah mau ambil pesenan Lontong nih.”
Akupun langsung bergegas mengambil kerumahnya, baru beberapa langkah menuju rumahnya, mules itu datang lagi, syukurlah struktur jalanan yang turunan memudahkan langkahku semakin cepat dan tetap hati-hati pasti.
Sepulang dari ngambil lontong, aku merapikan tanaman dari tetangga yang sengaja kupinta semalam, suami ku tercinta menyapa. “Mia,…Mia Mia ngapain…abang pikir. ngambil lontong, ya ampuun udah lah itu nanti aja, makan dih udah siang nih, cape tuh kan.”
“Iya bentar Abang, tanggung nih, dapat gratisan nih tanaman, ok baguskan, dikit lagi juga selesai.” aku terlihat sibuk namun seneng banget secara bunga cantik dan gratis pula dapatnya.
“Yaudah, cepetan yah…Abang tungu dikamar, Yu.”
Terdengar geli tapi aku suka kata yuk, isyarat minta dilayani segarnya laut biru nan cerah di pagi hari, Aku hanya tersenyum dan berharap dia mengulangi kata itu lagi, satu kata yang buatku, melanglang buana ke negeri pelangi seperti dongeng dulu.
“Iya Abang bentar nih, lagian Mia belum sholat Zhuhur, emang Abang udah..”
“Udah dong, hampir setengah dua loh ini,”
“Masa sich, pantesan perut udah keroncongan, aduh bang kenapa mules lagi yah, tadi udah berenti, eh udah pub eh ada lagi, berenti, sekarang ada laginih mulesnya kenapa yah?”
Aku merasa ada yang ga beres, saat menemani Nur tadi ga mules, baru masuk ke kamar mules itu datang lagi, bertambah sering dan dibarengi pegal yang amat sangat di pinggul belakang, bawah, samping pokoknya merata, perut seperti di gempit dua orang, rasanya ngilu sekali.
“Yah Mia, bisa ga, Abang udah mau dari tadi, pake nunggu lagi, ngantuk ini abang, tapi bentar aja yuk.”
“yuk sayangku…”
“Hihi jadi ga tega yaudah, udah berenti lagi kok, pasti gara-gara makan sambel nih tadi, perut agak panas, ok ok Abang, bentar Mia mau pipis dulu yah, “
Saat keluar, tangannya yang lebar menunjukan lelaki Sumatra yang kokoh itu pun meraih tubuh ku, dan aku jatuh duduk di tempat tidur kami, wajahnya seketika merapat tepat di sekitar pipi, kening terus sampai dagu. Tak lupa berdoa agar terhindar dari campurtangan syetan. Dan terjadilah ……
Setelah selesai fata morgana seperti melihat matahari terbit yang sangat indah di ufuk penuh dengan pelangi. Setelah selesai menunaikan tugas seorang isteri seperti biasa mencium kening ini dan mengucapkan “Istirahat ya Umi akung, Abang juga mau istirahat nih.”
Kalau sudah terlampiaskan segala emosi pria sejati, baru deh nyerah dan tertidur pulas, tapi aku merasa tenang dan senang karna telah melayani suami yang sangat aku cintai, ku peluk kepalanya, dan ku kecup keningnya.
“ Bobo ya sayangku nanti Mia bangunin, jam setengah lima.”
“Iya, bobo bentar aja. Abang juga mau cuci mobil tuh’”
Waduh mules itu datang lagi, seketika saja aku berpikir apakah ini yang namanya kontaraksi, yang sering ku baca di majalah, hal semacam ini merupakan tanda-tanda ingin melahirkan. Tapi aku belum pecah ketuban, dan yang kutahu setelah pecah ketuban hanya berselang beberapa menit biasanya si ibu sudah bisa melahirkan, memang tergantung kondisi janin dan ibu itu sendiri.
Hari semakin sore, mules yang semakin menjadi lalu hilang lagi, tapi tidak menyulutkan aku untuk menyetop tukang bakmi yang lewat setiap sore. Abang pun sudah berada diluar kamar terlihat telah siap sholat ashar dan ingin segera mencuci mobil. Aku makan bakmie dengan lahap, sambal dengan kuah cirikhas lemak ayam nikmatnya membuat dahiku mengeluarkan butiran keringat.
 “Mia makan lagi sayang, oh kecapaian yah, Abang cuci mobil dulu yah.”
Dia menggodaku dengan menyindir, karna sedang melihat isterinya yang lahap menyantap, semangkok bakmie, “full dan kenyangnya Mantab bah”.
Menjelang magrib kuyakinkan ini adalah kontraksi tanda ingin melahirkan, Tapi sekejap hilang lagi, aku masih bisa menahan rasa sakit di daerah pinggul, karna pikirku mau pub jadi perasaan itu biasa saja,malah masih bisa sholat dengan khusu’.
Setelah sholat dan berdoa untuk calon bayiku, aku kembali kontraksi namun serasa ada yang mengganjal di sela-sela pakaian dalamku, ku seka dengan celana ternyata ada darah yang melekat.
Aku masih ragu ini bertanda melahirkan, padahal aku tahu ini gejala aneh, rasa sakit di daerah pinggul menghebat, mulas itu silih berganti, dan berjenjang waktu dikala ia berhenti, yang tadi beberapa jam mules itu datang kini berganti semakin cepat, dan hanya berselang menit, limat menit sekali mules itu datang, dan akhirnya tiga menit sekali, aku langsung bilang ke Abang, kalau ini aneh mulesnya tidak berhenti bahkan sering muncul, dan hanya berselang menit. Tapi jawabnya.
“Bang perasaan ini aneh, mulesnya ga berhenti nih, ada flek lagi, gimana yah?”
“Jangan pake perasaan, kan masih lama kata Dokter, lagian belum pecah ketubannya.”
 Dasar laki-laki, andai rasaku rasa mu kaya lagunya keris patih, udah gw nyanyiain nih buat luh, ga tau apa, mulesnya ngangujubile astagfirullkah nih Suami ku yang barusan kulayani, subhanallah keasyikan nonton bola sampe lupa kalau isterinya kesakitan mules dari pagi. Sekejap ku ingat pesan mama dan mertua, mama ku juga tidak pecah ketuban duluan saat dulu melahirkan aku, mertua juga sama, akhirnya kuputuskan menelfon mertua. Ditengah-tengah menahan rasa mules yang amat sangat itu, aku menelfonnya.
“Assalamualaikum, mah, lagi ngapain”
“walaikum salam…ga lagi ngapa-ngapain, lagi maen game depan computer nih.”
“Mia mau Tanya nih, Mia udah keluar flek tapi belum pecah ketuban, tapi nih mulesnya, jadi sering, tuh kana duh…lumayan sakit sih.”
“Sakit yah, yaudah langsung ke dokterlah itu, cepet,udah disiapin kan perlengkapan bersalinnya.”
 ”Emang sakit sih, iya mia inget mama pernah bilang, kalau udah flek langsung ke dokter aja, tapi Abang bilang jangan pake perasaan, emang belum tepat ama perkiraan dokter sih.”
“Alah si Abang tuh tau apa, kan kita yang ngerasain, mana si Abang mama yang bilang.”
Tanganku langsung memberikan Hp ke suami yang tak tahu sakitnya kontraksi.
“SIR, si Mia udah mau melahirkan itu, cepatlah kau bawa keDokter, udah siapkan semuanya, jangan lupa baju bajunya juga.”
“oh yaudahlah kalau begitu, Nasir bawa aja yah ke Rs Bersalin Sarah Medan kata Temen Bagus.”
“Kabarin mama yah, nanti.”
“Iya ya mah kami berangkat yah.udah dulu yah mah, Assalamualaikum.”
“Hati-hati SIR’ walaikumsalam.”
“HUUUH DASAR ANAK LAKI-LAKI KALAU MAMANYA AJA LANGSUNG GERAK CEPAT.” Astagfirullah syetan membisikkan yang aneh-aneh, “makasih ya mah” bisikku. Nasir langsung memanaskan mobilnya, dan aku menyiapkan diri seadanya, sudah dari sebulan lalu, perlengkan bersalin ku siapkan, sampai baju bayinya, aku menyusun sampai, 2 tas besar.
Selama di perjalan sakit itu malah menjadi-jadi, kami melewati 3 kali lampu merah membuatku menahan rasa sakit yang begitu bergejolak, seprti dipukul martir terus perut di ubek-ubek mulesnya. antara senang terharu, sakit luar biasa sampai ingin rasanya teriak, itu tidak mungkin, bagus lah punya suami yang siaga di rumah, dan Nasir menghiburku selama perjalanan.
“Pake lampu merah segala lagi.”
Lontarku perih menahan rasa sakit, Si abang malah berceloteh gaya Medannya yang khas dan buat aku terpingkal-pingkal.
“Iya terus-terus tarik napas, tahan buang, dari bawah, hehehe, sabar ya nak, sabar pelan-pelan BAH!”
“Jadi mau ketawa denger abang ngomong batak.“
Tapi lisanku memerih teringat mamah. “Ampun Mah, Mia banyak dosa nih Ampun, begini toh rasanya, oh Tuhan AMPUN, Mia nyesel pernah ga nurut sama mama, Mia nyesel oooow sakit Mah Mia, minta ampun Mah….” Aku menangis kesakitan dan tersentak ku menyesali semua tingkah lakuku yang membuat mamah marah dulu. Beginikah rasanya kontraksi, seperti ada yang menusuk perutku dari dalam, mules luar biasa, bukan main.
Sepanjang jalan Abang terus berzikir antara senang dan was-was, tak jarang dia mengulangi untuk bersenda gurau disela Lampu merah, nah ini sudah lampu merah yang ke 4 hampir tiba di Rumah Sakit. Akhirnya sampai juga di Rs Bersalin Sarah Medan. Aku masih menunggu di mobil, Abang berlari tampak kebingungan, karna sudah gelap dan sepi diluar RS, “Tolong mas isterinya mau melahirkan”.” Nanti pak aku ambilkan kereta dorong dulu”. “ Aaahh sakit nih bang mana dia sih, ko lama manggil nya, alah tuh pake kasur dorong itu, kelamaan ah” Aku langsung turun dengan tergopoh-gopoh menahan rasa mulesnya. Langkah pelan tapi pasti terus lanjut ke ruang bersalin di Bantu oleh sang suami.
Waktu sudah menunjukan jam delapan lewat lima belas menit, Aku sudah duduk dengan posisi miring. Memang sudah berada di kamar bersalin.namun harus menunggu Dokter yang masih jalan-jalan di Mal, kata perawat yang jaga malam itu, malam Idul Adha mungkin, tak apalah buatku. Suster yang menemaniku mencoba menghibur sambil menunggu Dokter Cut Mutia itu datang, Alhamdulilah aku ditangani Dokter wanita seperti harapanku. Suster itu memastikan sudah sampai pembukaan berapa, diapun sudah mantab bisa memastikan aku di posisi Pembukaan ke sekian. Dengan terkejut mengatakan padaku karna aku ternyata sudah pada pembukaan sepuluh, hanya tinggal mengejan dan janin siap di keluarkan.
“Wah ini dikit lagi ko’ tapi tarik napas terus ya bu’, jangan mengejan dulu, tunggu abaa-aba dari Dokter, nanti juga dikasih tau.”
Mengejan itu maksudnya “ngeden seperti buang hajat. Kudengar Suster itu berbisik sama kawannya yang akan membantuku melahirkan juga, namun suster yang ini agak judes, lebih tepatnya tegas aku ga suka nada suaranya yang memekak telinga, bataknya, mantab keras. Bikin sakit kuping.
“Termasuk hebat ibu itu, sama sekali ga ribut sepanjang dibawa kesini, padahal anak pertama.”
“Iyah, aku juga lihat dia, masih bisa jalan kekamar mandi tadi padahal udah pembukaan sepuluh, ga teriak-teriak lagi, kemaren aku hampir budek denger ada ibu-ibu, teriak kenceng banget, tapi yang ini ga’, heran juga aku yah, termasuk kuat ibu ini.”
Aku mulai tenang, karna ke dua suster ini menambah keyakinan, kalau aku termasuk beruntung, masih di berikan kekuatan untuk melahirkan, dan sampai pembukaan sepuluh rasa sakit itu, hanya pas di mobil dan selama perjalanan saja, coba dari pagi tadi waduh munkin udah beranak di Pasar”WAKAKKAAA”.

“Sus, udah boleh mengejan belum udah ga tahan nih mules banget ADDUUUH.” Bunyi pintu itu membut khawatirku hilang, Sang Dokter mancung berasal dari Aceh itu datang juga, hei kulihat dia mengenakan Jilbab, Wah makin tenang aku di buatnya.
“Bagaimana bu, udah siap, kira-kira masih mau pipis atau pub ga, coba ibu, kekamar kecil dulu untuk memastikan.”
“Udah Dok barusan tapi ga keluar sama sekali tuh, udah ga tahan mules nya nih.”
“oh ok, coba aku lihat dulu yah,”
Dia merogoh, untuk memastikan.
“Ok nih bisa kita mulai, perhatikan Aba-aba dari aku, tunggu sampai mules itu datang baru ibu mengejan yang kuat, yah inget yah bu, kuaaaat sekali, buat ngedorong anak ibu lahir nanti.”
Aku dan suami mengalami kejadian luar biasa dimana detik-detik itu mulai terasa lambat bahkan terasa berhenti, Abang tak melewatkan sedetikpun dia terus bersamaku. Menemaniku, berdiri di sebelahku, memegang kepala dan sangat membantu secara emosional. Dia terus berdoa melafazdkan zikir serta doa kepada Sang Khalik, Allah Swt.
Aku terus meyakini diri, bahwa rasa sakit apapun pasti disesuaikan dengan kemampuan kita sebagai manusia. Aku puin terus berdoa, sambil memantabkan kekuatan terutama kekuatan fisik selama proses itu.
”Dok udah mules banget nih. Aduh… Ya Allah…”
Dokter itu langsung menyiapakan peralatan, dan seketika dia mengeluarkan gunting dan langsung merobek daun vagina ”skrechk”, rasa sakit saat robekan itu terjadi tidak ada sama sekali, tapi rasa sakit mules masih tetap luar biasa. Suster yang lainpun tak kalah sibuknya, segera menyiapkan peralatan untuk sang bayi yang nanti lahir.
“Ya ampun Dok, udah boleh mengejan belum, ga tahan nih, Aduh bang….ampun deh rasanya….mules baneeeeet.”
“Tarik napas, Mia abang di sini kan, ayo, Ya Allah, ya Allah mudahkan Ya Allah.” Bibirnya tak berenti berzikir.
“Bu, kalau mengejan jangan diangkat yah, pinggulnya. Saat mules mengejan sekuat-kuatnya yah,”
“Iya Dok, ilang lagi nih mulesnya, aduh smoga nanti hidungnya kaya Dokter yah, mancung..” Aku masih bisa bergurau, sang Dokterpun tertawa geli, si ibu masih bisa becanda pada pembukaan sepuluh. Dia geleng kepala, suamikupun tersenyum.
“Dokter, mules nih…aduuuuuh..ngehhh…ya Allah…ngehhhhngehh..”
Aku langsung mengejan sekuat tenagaku, ku keluarkan semua tenaga yang tersimpan di tubuh, iya semuanya sampai keringat terus membasahi sekujur tubuhku, suami terus menyeka keringat yang terus membanjiri sambil memegang palaku sekuat tenaganya, karna kepalaku harus ikut terangkat untuk memastikan posisi dagu menempel ke dada, dan itu memudahkan sang ibu, mengejan sekuat tenaganya menurut Dokter.
“Nah terus bu kepalanya udah kepegang nih, iya terus, yang kuat dorong iya bagus, iya terus bu bagus, sekali lagi, dikit lagi tarik napas bu, yang kuat teruuuus iya,iya….”
“ngehhhh…..ngeeeehhhh….” Aku terus mengejan sampailah pada ke tiga kali, ada yang buatku tersenyum agak lucu memang si suter, sang suster yang judes itu, tak sabar karna aku menurutnya kurang kooperatif, aku kurang semangat mengejan, padahal udah abis-abisan.
“Bu, hayo bu sedikit lagi, gimana si ibu ini udah berkurang tenaganya, yang kuat bu.” Tangannya, langsung mendorong perutku dari bawah dada dia mendorong kuat sekali dan …
”plugh plugh…pluesssss…” Lega rasanya, mengejan kelima kali membawa anakku melihat dunia ini. Entah lima atau empat yang pasti tak lama, suster itu mendorong, ternyata dorongannya mampu mengntarkan kemudahan.
“wuih…..Alhamduulilah…wufh…Alhamdulilah….Ya Allah.”
Wajah mungil itu sudah ada di atas dadaku, matanya mirip Ayahnya, lesung pipinya, mewarnai wajahnya yang super imut ya Allah ada lesung pipi lucunya. Kepalanya sudah bisa dia balikan dengan reflek, wah sungguh menakjubkan, aku terharu sekali bersyukur pada Allah yang maha tahu Setiap kelemahanku, tapi ini belum selesai, aku harus menjalani nyeri kembali karna harus menerima jahitan, tapi setelah ada wajah itu aku tak menghiraukan rasa sakit yang tak seberapa, oh anakku dia, menggemaskan, wajahnya lugu tanpa dosa, aku terus menangis terharu, Wajah Suamikupun sama, tak lama dia membisikkan puji syukur dan Azan untuk Buah hatinya, Diapun terharu, Dia terus menatap tak bosan sama sekali.
“Ya Ampun, Lihat Mia, lucu banget yah, ada lesung pipinya, Subhanallah…alhamdulilah Ya Allah, Abang jadi terharu nih.”
Suamiku, tak bisa menahan harunya aku yakin, dia merasa senang sekaligus puas sekali, terlebih lagi anak pertama adalah laki-laki sama seperti harapannya.
Ku beri nama ia Fathan Ifni Adha Lubis. Nama dari opungnya, Ifni untuk menunjukan rasa terimakasihku, karena Opunyapun sudah meninggal.aku harap Fathan dapat terus mengenang opungnya yang baik budi. Juga abahnya yang sama juga baiknya. Abah Mursidi yang telah merawat dan mendidikku. Abah yang pernah menggendongku selama berminggu-minggu karena aku sakit tipes dan sengaja dirawat dirumah, Abah yang sangat setia pada keluarga dan sabar merawatku.        
Cinta
Lahirnya Fathan Bertambahlah Cintaku pada Mu ya Rabb
cinta itu ketika hati dan akal klik melahirkan kebaikan, mengiringi waktu untuk saling membuka pintu hidayah Allah..
.menjalin kasih untuk merangkul atas setiap kekurangan...membuka tabir mimpi untuk segera diwujudkan..
melihat celah untuk saling menutupi...membina mahligai dengan senda gurau haru untuk memupuk rasa bersyukur...
 saling menguatkan untuk bisa bermanfaat.
ketika suatu makhluk mengalami cinta dia kuat karena punya tumpuan tentu cinta Allah paling hakiki
 ketika benteng pertahanan itu runtuh... hanya cinta MU Ya Rabbi utuh ....ya muqollibalQullub jangan jauhkan aku dari kunci untuk meraih ridhomu, Terimakasih Cinta.
 



Sabtu, 21 April 2012

Hari yang menjadi buah bibir namun makna hilang Merayap


Assalamualaikum WWB

Haloo ha ibu wanita Indonesia, isteri yang super luar biasa. Waaah Udah hari kartini aja nih, Ga ada habisnya yah ngomongin Emansipasi.

Sudah bosan ga sih dengan istilah emansipasi dan sudah lelah mendengar kata Harinya wanita dari media manapun juga sekedar lirikan layar kaca yang menampilkan betapa hebatnya kata Emansipasi yang membuat wanita Indonesia cerdas. “Cerdas apa nih bu….”

Tidak bermaksud menyela Raden Ajeng Kartini, sosok beliau masih membahana sampai sekarang, turun tangan media yang positif banyak menyorot beliau dan memang patut selalu jadi bahan perbincangan atas kebaikan dan sumbangan pemikiran untuk wanita di Indonesia atas pendidikan dalam memperjuangkan hak wanita itu sendiri mengembangkan ilmu, mengasah keterampilan dan ikut berperan dalam membangun bangsa. Ini sangat memberi aroma positif untuk regenerasi agar terus mengingat jasa dan perjuangan beliau. sayapun sangat menghargai peran media. 

Pemikiranpun terus menjadi momok yang harus dipertanyakan looh…?.
DAN INILAH YANG LEBIH DIUTAMAKAN sebuah pertanyaan bukan sekedar bagaimana merayakan, Sungguh Sudahkah saya Cerdas sebagai ibu, dan wanita pada umumnya?
Namun entah itu hari kartini atau hari ibu itu sendiri, seperti tidak ada semangat untuk berkata lagi ketika masih saja ada kabar seorang wanita tega menjual anaknya,
seorang ibu sengaja membuang bayinya,
Anak remaja menggandrungi band asing bahkan rela membayar ratusan ribu untuk sekedar nonton dari kejauhan padahal ibunya banting tulang untuk makan sehari-hari,
Remaja putri buka paha tinggi-tinggi karna bisa merasa lebih percaya diri because What  "aku kan pingin kaya grup girls yang di tv itu loh, mah!" Timbullah penyelewengan para remaja putra terhadap putri kita.
Ada geng motor wanita yang bangga memukul kawan wanitanya sendiri.
Ada pembantu menyiksa anak majikan, karna ibunya judes dan pelit, karena setelah di tanya "kenapa kamu rela menyiksa anak tersebut? "Habis majikan saya judes, kalau nyuruh kasar udah gitu pelit lagi."
ada anak sd yang diperkosa secara bergiliran oleh anak smp.
Iiiih seremkan bu…
Lalu setelah banyaknya buah bibir tentang hari Kartini yang disebarluaskan siapa yang harus dipersalahkan. Tentu masih banyak lagi berita yang lebih mengerikan. Tidak bermaksud menjadi kompor agar luapan emosi itu terkuak.

Lebih baik saya tampar diri ini dulu secara emosi.
Mmmmh apa yang sudah saya perbuat selama ini?, adakah tangan ini mencampuri hal untuk sekedar bisa bermanfaat untuk orang lain?
Dimanakah saya saat anak menangis karna berebut mainan, boleh jadi dia enggan memeluk saya malah berlari ke sang asisten.
Sedang apa ketika anak bermain sendirian, apakah sedang sibuk menonton infoteimen?
Ketika ada berita seorang anak wanita yang hampir digauli pacarnya. lalu dari kejauhan Ada seseorang yang sibuk menyalahkan sang ibunya, "lagian sih si ibu makanya dong jangan duniawi aja pikirin anaknya awasin tuh anak, cari akhirat,  si ibu ini pasti ga ngaji, iitulah karna kurang ilmu agama."
Tidaklah bijak seseorang bila menyikapi suatu kabar hanya menyalahkan, lalu menyinggung si objek apalagi dijadikanj bahan perbincangan hanya mencari kesalahan semata.

memang tegas orang berilmu, tapi kurang bijak mempergunakan ilmu bila hanya sibuk  membandingkan bahwa anda lebih baik dari orang lain.
Ilmu bagaikan butiran rintikan hujan yang dibagikan oleh Allah melahirkan butiran benih yang bermanfaat untuk orang banyak, dan Allah sengaja contohkan melalui ayatnya, tidakkah kita lihat ada rumput yang tumbuh sendiri di halaman, itu karna setiap butiran hujan ada benih yang akan tumbuh dengan ijin sang pencipta. Lebih lengkapnya ada pada surat Al-An‘am ayat  99:
 Dan dialah yang menurunkan air dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butiran yang banyak dan dari mayang kurma, mengurai tangkai-tangkai yang mengjulai dan kebun-kebun anggur, dan (kami keluarjan pula)Zaitun dan delimayang serupa dan tidak yang serupa.Perhatikanlah buahnya pada waktu berbuah dan menjadi masak. Sungguh, pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah ) bagi orang-orang yang beriman.
Semoga  tulisan ini bermanfaat, terus berproses bukan hanya ingin mempunyai potensi tapi bisa berpotensi melahirkan sisi positif dalam hal ini bermanfaat.
Setiap wanita dilahirkan cerdas, karna dia tercipta bersama rahim dan instink keibuan. Dasar INILAH SETIAP WANITA ITU ADALAH PILIHAN. Berita mengenai banyaknya penyelewengan yang dilakukan oleh wanita adalah tugas setiap wanita, ibu dan isteri dimanapun ia berada untuk serta merta mencari jawaban apa yang harus terus diperbaiki, serta langkah konkrt menjadikan diri lebih baik dimulai dirumah kita sendiri.
Welcome to de club, dunia yang sebenarnya adalah Rumah (Home)
Ketika banyak diri wanita itu sendiri yang belum menyadari urgensi dari arti kata emansipasi, bahkan belum ada perbaikan secara signifikan, ingin sekali menegur khususnya sang penulis ini mari ketuk dinding hati, renungi kesalahan yang berbuah pahit bagi orang lain. Apakah sudah melahirkan bekal untuk dibawa pulang ketika tubuh kaku tak bernyawa. Masihkah harus menyalahkan setiap individu dengan dalih tidak mampu berbuat sesuatu, adakah manfaat yang diberikan.
Semoga tidak terus ikut seraya meramaikan Hari Kartini bagai terombang ambing dengan gemerlapnya pesta dan gaun cantik. Saya AMAT YAKIN ANDA CERDAS. Semangat wanita Indonesia. Dunia ada di tangan anda pada akhirnya, ini hanya sekedar ungkapan lebai, tapi syarat meluapnya emosi untuk memberikan semangat Kartini.
Rumah “ya rumahlah pondasi tumbuh geraknya anak kita. PELUK MEREKA, sesibuk apapun usap air matanya, pujilah mereka, menangislah jika ingin menangis dalam berdoa untuk mereka, walau tak selalu ada waktu bersama mereka seringlah belay mereka ketika anda sedang bersamanya. ANDA SIBUK BEKERJA, tetaplah belajar memahami mereka, jagalah hatinya mantab melihat Dunianya, bangkitkan semangat mereka dengan tidak mengomentari buruk atau melabelkan anak kita dengan kata bodoh dan hantu belau sebagainya, nyanyilah kalau perlu menarilah bersama mereka, RASAKAN ATSMOSFIR RIANG MEREKA BERSAMA KITA WALAU HANYA SESAAT, dengarlah betapa indah gurauan mereka saat mereka mulai bercerita, saat dikantor rasakan detik yang hampa karna mereka berada dirumah.
Wahai ibu Emansipasi bukan sekedar persamaan derajat, apabila laki-laki harus bekerja kenapa wanita tidak. Emansipasi bisa cenderung pada persamaan pengakuan atas kelayakan dalam berperanpenting untuk orang banyak dan bumi laki-laki dan wanita, pengakuan persamaan pentingnya keberadaan jati diri laki-laki dan wanita untuk anak dirumah, serta persamaan pengakuan atas hebatnya antara laki-laki dan wanita namun tetap berbeda tempat dan fungsinya.
Jadi wanita harus sama diakui betapa penting keberadaannya dalam rnncah di manapun ia berada.
So  heeiii, kalau ada wanita hanya dirumah, “aaah situ hanya dirumah paling kerjanya itu-itu aja.”
Boleh deh ente bilang begitu. Tapi ko dapet cuti melahirkan 3 bulan aja, suntuknya bukan main bawaannya ngeluuuh mulu, “aduh meningan kerja deh kalau di rumah mulu bt.”
Nahloh, so betapa hebatkan ibu-ibu yang stay dirumah, apalagi sambil bisnis tuuuh.
Semangat umiii dan Ibu rumah tangga lainnya, tetep belajar yaaah Saya salut pada ibu-ibu yang berbisnis di rumah anak-anak tetap prioritas. Chhayoooo.
Kurang lebihnya mohon maaf… Hanya tempat kembalilah Allah Sang Pencipta.
wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

Minggu, 05 Februari 2012

Pertolongan Allah yang tidak terduga

 
Ingin rasanya menyetop bis ini berhenti, ingin berlari, bertanya pada siapapun untuk meyakinkan diri, kalau yang ku lakukan ini salah, namun susah untuk berontak, Seperti kekuatanku hilang, perasaan takut mulai meninju dada, seolah yang duduk disebelahku salah satu dari mereka. Entah mengapa setiap orang di Bis ini, layaknya jombi yang diam terpaku tanpa ekspresi. Malam sudah larut aku masih berada di dalam Bis jurusan Blok M-Tangerang, malam ini aku tidak bisa tidur.
Awalnya aku bertemu Cahya pacar dari sahabat kawanku Rendi, Kami bertemu di acara musik indie sekaligus nonton bersama Sepak Bola Dunia 2006. Kawanku adalah dramer di Band itu. Kami melewati malam dengan ngobrol ngarol ngidur, dan mulai asik dengan cahya karna dia cukup frendly, terbilang sangat cantik di mataku. Ramah supel dan modis. Dia juga orang kaya yang kuliah di Universita mewah di Jakarta. Sesekali dia mengajak bertemu bahkan berniat berkunjung ke rumahku, kamipun mulai dekat dan bertemu di sela pekerjaanku menjadi Top Cat di Mc donal Lippo Karawaci. Aku menghampiri Cahya yang mau berlama-lama menungguku, di sebuah tempat makan tak jauh dari foodcourt Lippo Karawaci. Tdak ada yang janggal dimataku, Cahya mampu membuatku nyaman. Ada saja yang di bahas. Pada akhirnya waktu mulai tidak bersahabat. Cahya mulai mengakhiri karna harus pulang ke rumahnya di wilayah Tebet Jakarta. Sebelum berpamitan dia mengajakku untuk belajar ilmu agama lagi dan dari orang terpercaya, tapi lebih gaul dan smart.
Dia sedikit bercerita tentang Orang tersebut, aku pun dibuat tanggung mendengarkan ceritanya. Dia menelpon sampai dirumah melanjutkan ceritanya, betapa dia ingin mengajakku untuk bergabung pada kelompoknya, tepat sekali kalau aku ikut, aku sedang ingin belajar Ilmu yang hakiki.dan bosan dengan hidup tidak karuan. Sepertinya kami sengaja dipertemukan Allah SWT, untuk saling mencari Ilmu.
Sms sering aku dapatkan darinya, hanya untuk mengucapkan Selamat tidur atau menanyakan udah makan atau belum. Waktu itu Cahya kerumah dan sengaja menginap satu malam, Dia mulai bercerita tentang temannya, Calon Dokter wanita yang masih Koas. Cahya membuatku takjup atas kelugasan bicaranya, mengenai alasannya untuk memperdalam ilmu, Dia mulai membuka catatannya, Dia mengingatkan kalau kita harus segera bertemu dengan wanita smart itu besok pagi di mall Cilandak Squar. Aku ragu karna sama sekali tidak ada uang dan alasan apa yang harus aku utarakan sama mama. Dengan lihai Cahya membuka Al-Quran, seolah bisa menebak pikiranku, Dia membuka Ayat yang menyindirku, yang berbunyi:
” Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang kami wahyukan kepada hamba kami (Muhammad) buatlkah satu surat (saja) semisal AlQuran itu dan ajaklah penolong-penolong mu selain Allah. Jika kamu orang-orang yang benar.”
Cahya membacakan ayat selanjutnya sambil sesekali meninggikan suaranya, guna meyakinkanku untuk mau belajar besok dengan kelompoknya.
“Maka jika kamu tidak dapat membuatnya dan pasti kamu tidak dapat membuatnya, peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
Ayat diatas terdapat di Surat Albaqoroh ayat 23-24. Sudah tak terelakan lagi aku bergelora dan aku mantabkan niat untuk pergi, namun aku terpaksa harus berbohong pada mama, namun ini cara agar aku mendapat uang jajan.
Esok harinya kami berangkat dengan bis. Selama perjalanan Cahya sibuk menelphon kawannya untuk bertemu di tempat makan biasa. Dia sesekali memegang tanganku, entah apa yang kurasakan saat itu, sepertinya Cahya teman sejatiku.
Sampailah kami pada tujuan. Di meja yang berisi empat bangku sudah ada kawan Cahya, berkerudung modis, tak kalah cantik dari Cahya. Dia sama seperti kita membawa catatan serta Al Quran kecil. Mulai Akrab. Cahya memujiku dan membicarakan prestasi yang sudah aku raih. Aku melayang di buatnya. Dina sapa akrabnya adalah teman satu kampus namun beda jurusan. Tak lama kami ngobrol, datanglah wanita smart yang dibilang Cahya. Dia tinggi dan memakai jilbab langsung namun busananya tetap  modern. Setelah acara basa-basi dan perkenalan diantara kami bertiga. Dia mulai bercerita tentang Sejarah islam pada Zaman Abu Jahal yang seolah-olah ceritanya agak mirip pada zaman Bung karno, setiap kali dia cerita sepertinya aku harus melihat matanya, yang hitam dan besar. Aku terpana dengan penjelasan ulasan demi ulasan, maklumlah aku ini minim ilmu Sejarah Islam. Dia lanjut lagi pada sejarah Abu Lahab di sinyalir sangat mirip dengan kisah Suharto yang rakus dan Tamak.
  Mulailah penasaran yang membabi buta, aku terbuai dengan deretan angka dari tahun sejarah yang di sebutkan. Wanita itu hapal di luar kepala, tidak perlu liat buku, dia hanya menyuruhku untuk membuka Alquran surat dan ayat yang menyinggung apa yang dibicarakan, untuk memastikan kebenarannya. Alhasil semua yang diutarakan adalah benar. Pikiranku tidak seimbang aku berat sekali padanya, seolah aku tidak ingin berpisah dari mereka yang cepat menjadi keluarga baruku. Dia menawarkan untuk ikut Pembaiatan, yaitu memasuki kawasan Negara Islam. Aku terperanjat heran kenapa harus ada Pembaiatan, setiap bertanya karna ragu, langsung dia Buka AlQuran dan aku yang membacanya. Ada kejanggalan, mulai ku ingat ini adalah kelompok yang mengikat. Tapi aku merasa ingin coba samapai sejauh mana aku bisa masuk. @Sok tau.com
Setelah pertemuan itu, aku pulang dengan gembira, maklum aku termasuk orang bego ilmu agama, sehingga mudah di buat Takjub dengan paparan Sejarah Islam darinya. Kami berjanji untuk bertemu lagi, seiring waktu kamipun sering bertemu, hanya untuk meyakinkan masuk di Negara Islam , aku disuruh bayar Pajak dan semacam Pajak telah menjadi warga Negara, aku mengeluarkan seratus Ribu, dan kupinjam Cahya Seratus ribu, Aku diiming-iming Surga dan akan bisa melihat Wilayah Islami termewah sebagai Markas Nii yang kutahu itu adalah Pondok Pesantern. Terbesar di Asia Tenggara. Sampai sekarang aku tidak tahu kebenarannya.
 Setelah mengalami empat Pertemuan dari Mall ke Mall lain. Hari ini aku dibawa laki-laki muda, dan ada 3 rekan yang akan dibaiat, namun aku tidak kenal. Kami diajak berputar-putar untuk menjemput rekannya lain, selama perjalanan kami disuruh menutup mata, aku tidak ingat, dimana aku berada. Setelah sampai kami semua harus tetap menutup mata, ternyata kami sudah berada di ruangan berukuran 4 x 6 meter, berjejerlah bangku dan meja, kulihat dinding berwarna seperti kelas TK. Kami duduk sendiri-sendiri dan mulai dijelaskan Ilmu Tuhid yaitu Ilmu ketuhanan.
Mulai ada Perang dalam diri ini, Ketika aku kembali dengar Nii darinya, aku merasa salah untuk coba-coba ikut, dan ada dalam ruangan ini sungguh salah.  namun katanya pertemuan ini bukan Pembaiatan, kalau aku mau di Baiat harus menginap terlebih dulu. Aku agak tenang, karna aku bisa pulang dan memutuskan untuk tidak bergabung dengan mereka, apa daya sudah nyemplung sulit untuk keluar lagi.
Pembaiatan itu tepatnya besok, aku pun diantar sampai terminal Blok M, aku pake bis 45 jurusan blok M-Tangerang. Aku bingung memikirkan bagaimana besok untuk kabur. Itulah sebabnya diawal cerita mengapa aku seperti orang ketakutan yang melihat Jombi. Sudah larut malam. Sampai dirumah aku tidak bisa tidur. Pagi sekali aku beranikan diri bercerita pada mama, tidak bisa aku terus membohonginya, aku tidak pernah menyembunyikan apapun darinya. Mama teman terbaikku, setelah mama mendengarkan ceritaku, kaget bukan kepalang, dia lalu menelpon bapak yang masih di kantor. Untuk segera pulang karna aku akan dijemput mereka di baiat, tepatnya jam 10 Cahya dan Dina sudah bertamu kerumahku. Bapak tentu masih dijalan.
Mama menerima mereka, dan aku disuruh tegas menolaknya, tapi seraya tubuh ini lunglai, gemetar ketakutan. Akhirmya mama meminta Pertolongan Tetanggaku yang saat itu tidak bekerja, Sudah Ijin Allah, entah kenapa pas sekali hari itu Tante sebutan Tetanggaku, tidak ke kantor., Beliau seorang Jaksa yang sudah tahu Gerakan mereka menyesatkan. Aku diajaknya untuk menemaninya membeli sesuatu di Perum 2. Ketika kami sedang ngobrol perihal ajakan mereka, Tante datang dan langsung masuk dengan gayanya yang tegas, Tante mengajakku pergi. Mereka bingung dan membujukku, aku berat sekali, karna untuk bilang ke mereka kalau mereka itu sesat saja. Aku tidak punya bukti apapun.
   Diajaklah aku ke Atm, disitu kami ngobrol, Tante katakan, aku hanya harus menghindar dengan alasan apapun, Tante sudah tau, sudah banyak yang seperti mia, namun mia masih beruntung, Karna mia masih mau bercerita pada Orang tua, banyak yang sudah jadi korban, banyak berita gadis muda hilang, dan orang tua yang kehilangan putra putrinya.
Ini pertolongan Dari Allah swt melalui Tante tetanggaku, yang sekarang beliau adalah nenek dari anak-anakku, sekaligus mertuaku sampai saat ini, ini fakta. Jangan terlalu akrab dengan orang yang baru dikenal. Pelajaran bisa dipetik carilah Ilmu sebanyak mungkin tentang Agama, minimnya ilmu tentu kurangnya kekuatan diri dalam menangkal apapun yang merugikan kita. Terimakasih Mama, kini warna Pemangi itu terlihat Indah. Terimakasih Tante atau ku sebut mama juga, yang mempercayakan aku menjadi menantumu, sehingga aku tidak terjerumus lebih dalam kesesatan. Ahamdulilah Segala Puji Bagi Allah Pemilik jagat ini.

Rabu, 01 Februari 2012

catatan pribadi terpapar sehabis nonton Tv one.


Otodidak sampe ketok magic bisa asal dengan niat, ihktiar istiqomah dan ijin Allah Swt.

Belajar emang lo ajah yang di bangku...insyaAllah siapapun bisa. Asal ada niat. "Kenapa ngotot  ya lo mau kuliah lagi," "Iya kasian anak-anak masih kecil. toh Buku n Otak setiap waktu sudah Allah sediakan.", "Intropeksi umi mia," dialog yang saling berkesinambungan. Ini sering terjadi dan baru terjadi lagi.

Dialog diatas ni buat gw pribadi yah say, kalau ente tersinggung, ga ada aksud looh.
"Ngaca loh mia udah betul belum ngurusin anak, nanti ada masanya untuk itu anak lebih utama, oke coi, belajar dimana saja kapan saja dan dengan media apa saja."
"asal ente ikhlas, tuh waktu buat yang penting, jangan ente ngejedok aja noh di tv, denger tuh mak nye fathan..."
"Iya gw denger." kata sisi hati yang telah luluh.

Dialog diatas berjibaku dalam relung hati setiap waktu. ha ha ha "shut up lo setan...Pergilah.."
"baik saya akan pergi sesudah saya yakin ente ikut sama saya...ha ha ha ha"
Busyet tuh setan, tetep manteb ngegoda gw, ape resepnya masa gw kagak bisa manteb, lalu apa bedanya gw ama setan.
Auzubillahiminzalik.

"Ebte ngomong resolusi, mane tindak lanjutnye..."
 Kembali Dialog berulang-ulang.
Oke kita semua punya dan tentu ada harapan menjadi lebih baik. Sedikit mau berbagi cerita di kala malam.

Ba ca coi..."kurang enak mia...gimana kalau sok idealis sedikit, "
bacalah saudaraku."
"ahhh sok kali macam Dosen,"
"woi baca woi.." "boleh-boleh tapi ini serius nih, bukan undangan nonton dangduttan."
"okelah, bagaimana" kalau mau boleh ko dibaca, sok silahkan..."
"alaah terdengar pasrah kali kau ini, ini medan mak..."
meningan ini.." BACA GA LOH!" hahaha maksa.

Pas jam 12 kurang 7 detik, tepatnya tanggal 31 januari 2012 saya duduk depan Tv sambil nemenin anak main, mulailah saya buka majalah Parenting, akram mulai tertarik untuk ganggu saya yang sedang asik membalik halaman, Sekelibat saja tangan akram merebut majalahnya dan dengan raut wajahnya yang serius, lalu dia pandangin majalahnya, dia lihat lagi dengan seksama dan sangan konsen, lalu dia hadapkan muka mungilnya pada saya dan matanya menunjuk ke arah gambar yang sedang berpose anak ibu lagi bobo, tersentak dia angkat jari telunjuknya, dan langsung ngoceh:

Dengan gayanya macam kritikus handal.
"umi ssst ni bo."
Tingtong, sinyal mau ketawa lah saya di buatnya, di pikir apaan serius kali lah anak hitam ini.
diulang lagi "mi ni bo."
saya jawab dengan menahan tawa, "mana oooh iyah, dede bobo.."
Tangannya bergerak mau nabok. Tapi ga ko cuma gertakan. Berayun sedikit untuk sekedar menggertak saya,
di ulang lagi dengan penuh penghayatan untuk kesekian kali:
"ssst ni bo.."
Kami (fathan dan si kk asisten) ketawa terpingkal-pingkal.
" Ya ampun Akram, serius kali lah kau nak, itu cuma anak sama ibu yang lagi pose berbaring di kasur."
Bisik hati saya.

Wahai umi dan ibu kusayang ,
Seharusnya ada yang bisa di petik dari sini, betapa Anak-anak mudah dengan hanya melihat walau hanya hitungan second. Padahal dalam membalik halaman saya tidak terlalu lambat. ke dua, Akram yang masih balita, mampu mempraktekan dengan lihai walau dengan gerakan jemarinya, dia mampu menarik telunjuknya untuk mengekpresikan perintah yaitu menyuruh saya untuk diam, sst seperti mengisyaratkan jangan berisik. Berarti setiap anak kecil lebih mudah mempraktekan ide yang ada di otaknya untuk diterapkan walau belum bisa bicara.
Contoh lain:
Bayi yang menangis karna lapar dan ngompol.
Tolonglah wahai umi dan ibu yang sangat aku sayangi, mari bersama cetak generasi dengan optimal, boleh saling kasih saran dan masukan, atau kemajuan anak anda di bagikan agar kita sama-sama semangat. Sungguh senang bila melihat status kawan yang mengutamakan perkembangan anaknya, saya salut, saya saja jarang dan kurang perhatian. saya salut pada anda yang begitu.
fokus lah pada hal yang penting seperti ini, anak anda dan anak saya calon pemimpin negeri ini.

Saya hanya ibu yang didapur loh, bukan guru, mohon maaf  yaah bukan menggrurui, mari bersama berdoa untuk anak kita masing-masing, dan yang belum punya saya turut doakan semoga di beri yang terbaik serta keturunan yang terbaik untuk bangsa dan kedua Orang Tua.
Tidak ada murid yang GOBLOK, YANG ADA HANYA gURU YANG GAGAL MENDIDIK.
Tidak ada anak yang nakal, Yang Ada hanya Orang tua yang tindak tanduknya buruk.
Semoga Pernikahan menjadikan kita menjadi lebih baik, baik secara finansial maupun secara emosional.
Saya terus berdoa dan yuk mari bersama-sama berdoa untuk anak-anak kita.

"Rabbi hablii minas shaalihiin."
“Ya Tuhanku, anugeRahkanlah kepadaku (seORang anak) yang teRmasuk ORang-ORang yang saleh.”(Q.S. As-shaffaat: 100)

"Rabbanaa hablanaa min azwaajina waa dzurriiyaatina QuRRota a'yyun, waj a'lna lil muttaqiina imaamaa" 
“Ya Tuhan kami, anugeRahkanlah kepada kami isteRi-isteRi kami dan ketuRunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi ORang-ORang yang beRtakwa.” (Q.S. Al-FuRqan : 74)

"RObbi hablii minladunka dzuRRiyatan thOyybatan innaka samii’ud du’aa..
 YaTuhanku, beRilah aku daRi sisi Engkau seORang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha PendengaR dO`a”.(Q.S. Ali ImRan : 38)

BAIKLAH ibu yang soleh, saya lanjutkan cerita di malam yang sama. 
Saya syukuri hal diatas terjadi, lalu tidak sengaja Fathan ngotak atik tv,  berganti chanel lalu ga sengaja denger Bang Karni ngoceh dengan ciri khas nya, berdebat tentang pasal yang di tujukan untuk Afriyani Susanti.

Tentu masih ingat bukan, tragedi Tugu tani yang menewaskan 9 orang, salah satunya anak balita 2,5 tahun. Betapa saya menangis dan miris sekali, seorang Bapak kehilangan 4 orang sekaligus dalam satu tempat dan satu waktu.
Lama saya simak namun ada bisa saya ambil, sedikit ilmu lagi. Tiba-tiba saya dengar inisialnya S t seorang seniman, Beliau saya sukai dari dulu, karna jagonya berperan dan ahli pewayangan.
 Namun ada yang buat bibir saya mau teriak padanya.
ini sedikit kutipan nya:
..saya Berani ngotot bahkan sangat keras untuk para koruptor, saya sangat berani untuk membabat habis berdebat masalah koruptor...tapi saat ini saya tidak mau, dan tidak berani membahas tentang narkoba, karna banyak yang ingin memberantas narkoba tapi dengan kebencian....
Kurang lebihnya seperti di atas.

Saya setuju kalau ungkapannya seperti itu.Tak lama kemudian dia menambahi, saya makin terpancing untuk melotot.

...banyak ko yang mati-matian ingin memberantas, ada contohnya. saya pernah nanya seorang kapolda, yang memberantas narkoba, tak lama kemudian saudaranya, mati karna OD, saya tanya sama Dia, Mas apa dulu memberantasnya dengan benci, Loh saya kurang tahu mas, udah lupa jawabnya. Inilah maksud saya, Karma sudah terjadi, Ada karma distu karna mungkin ngeberantasnya dengan rasa Benci, Narkoba ini ga bisa kita berantas dengan kebencian, kalau kita terlalu benci dengan masalah narkoba kita bisa kena karma, mungkin anaknya atau cucunya.  Saya ga berani membahas ini, makanya saya ga mau ikut-ikutan nulis di twitter memaki Afriyani Susanti.
sambungnya...
...Koruptor tanpa narkoba ko justru lebih kejam...malah dia membuat jutaan rakyat miskin, sama kan kaya membunuh itu namanya...si Afriyani malah masih mending. apalagi dia lagi make narkoba lagi nyetir yah ga sadar kan..
Itulah kira-kira maksudnya.

Betul juga sih Koruptor Kejamnya ga ada tandingannya. Tapi Saya jelas ingin menjawab, ko karma sih Mas.

Ga lama, seorang Ustad yang bernama Bumi, suami dari artis sinetron cilik, Puput melati.
Menanggapi.
...saya mau menanggapi, menurut kami kaca mata hukum agama, itu bukan karma, ... gini Allah tidak akan merubah hidup seseorang sebelum dia mau merubahnya...ibarat berteman dengan pedagang minyak wangi, dia akan ikut wangi, kalau kita berteman dengan orang soleh kita akan tertular. kesolehannya. Jadi semua itu kembali pada setiap pribadinya, jadi semua itu bukan Karma.

Dan saya semakin meLOTOT penuh haru...karna Ustad yang lain menambahi...

...saya mau menambahi ini ada di surat Annisa, 44 yang berbunyi :
"Sungguh Allah tidak akan menzalimi seseorang walaupun seberat Zarrah dan jika ada kebajikan seberat Zarrah niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-NYA.

maha Benar Allah dengan segala Firmannya.Tahukan kita, Zarrah itu suatu yang teringan. dan terkecil.

Cukuplah. Sampai disini...jadi Karma itu tidak ada, kalau anak kita terjadi apa-apa bukan karma, percayalah...umi.


"Ayat bicara di semua aspek..nah loh ente buka dah yang ngaku muslim tuh Quran"
"...jangan ngejedok aja tuh di lemari...wwwoi.."
"iya iyah...cerewet loh..."
"susah sih lo jangan lama-lama nyadarnye..."
"ampuuun.."
dialog diatas buat saya loh. ..saya pribadi...alih-alih nampar diri...ups..dahsyat...
alhamdulilah...semua kebaikan datang dari ALLAH SWT. kesalahan dan kekurangan hanya dari saya.