Lahirnya Dia si Buah Hati
Tepat hari ini adalah Idul Adha,
sudah lama aku persiapkan hidangan apa yang akan disantap, seperti lontong dan
sayurnya, tak lupa sajian lain yang menambah nikmatnya hari yang membahagiakan
itu khususnya untuk umat Islam. Dimana pembuktian kesabaran seorang Ayah
terpatri di kalbu setiap insan yang beriman.
Kemandirianku terus terasah dengan
sendirinya, jauh dari orang tua bukanlah pilihan tapi keharusan yang kujalani
untuk menemani Ayahnya yang bekerja di Labuhan Delli, Belawan Sumatera Utara.
Ku sengaja bangun lebih pagi, karena sudah niat untuk pergi ke Simpang Limun, Pajak atau biasa disebut Pasar karna
orang medan terbiasa dengan kata Pajak. Telingaku tetap terbiasa dengan
kata Pasar. Aku naik beca goes atau Dayung, agak aneh buatku yang lama tinggal
di pulau Jawa yaitu Tangerang perum 2 Karawaci. Sebutan Pajak itu tak pernah ku
dengar justru Pajak itu adalah pembayaran rutin untuk membentu pemerintah
meningkatkan pembangunan, “oalah entah
kenapa Pajak berubah jadi Pasar”, aku melangkah dengan mantab untuk membeli
bahan sayur yang akan diolah Asistenku di rumah yaitu si mba Nur, dari rumah ke
pajak sekitar 10 ribu, belum lagi tip menunnggu, total 20 ribu.
“Lebaran ini aku tak bisa pulang Mah, karna cucumu akan Lahir tanggal 20
Desember nanti.” Bisik hati yang merintih ini.
Pagi tiba-tiba mules lalu sampe kamar mandi hilang. Mules itu kian sering
tapi tak lama berhenti sesaat, aku pun sampai di Pajak SL (Simpang Limun)
Langsung kuraih tukang Jualan dengan semangat.
“Bang, beli ayam 2 kilo yah, berapa”
“biasa aja ka’ Cuma 22 ribu.” Sambil memotong ayam yang berceceran di mejanya
dan melayani Pembeli lain yang terus berdatangan.
“Ah ga biasanya itu, ku beli baru semalem 16 ribu,
kan nampak wajah ku semalem kan
Bang.” Sengaja ku memakai logat khas Medan seolah aku terbiasa membeli padahal
jarang juga, biar keliatan lebih akrab.
“Aduh ka’ ini hari raya pantas lah kalau naik sikit.”
“Kurangi ya BANG, 18 RIBU CEM MANA?” Dengan gaya santun tapi harus pake
maksa biar dikasih. “Ga, ga lah ka’ ga dapet untung nanti aku, coba kaka cari
yah didalem sana, sekarang kukasih 20 ribu kalau kaka dapet di dalam kurang
dari 20 ribu, kembalikan ini ayam.” Tegas si Tukang ayam. “Okelah kalau begitu,
iih si abang ama langganan aja loh.” Ku kasihlah uangnya, ga papa deh namanya
juga usaha menawar.
Makin kedalam ternyata makin murah harganya, Harga Ayam memang Abang
itulah andalanku, karna dia tak berdusta tentang harga dan sudah terbukti.
Aku kembali mules,“wah ini pasti mau buang air besar.” gumamku yang telah
was-was dan merasakan keanehan rasa mules yang silih berganti dengan pegal di
pinggul. Perut yang besar dan tetengan di kanan kiri tanganku, membuat badanku
semakin berat ku bawa. Pelan-pelan tetap ku fokuskan pada pandangan kedepan, ku
cari tukang becak yang sedang menunggu, duduk di becaknya.
“Bang, ayo balik kerumah lagi.”
“ka’, nampaknya besar ya ka’ udah berapa bulan rupanya?” sang tukang beca
memperhatikan perutku, saat meraih belanjaan yang ada di tanganku, dia tak sungkan bertanya
karna aku terbiasa pergi diantar becak dayung ke luar komplek.
“Udah 9 bulan Bang, tinggal nunggu hari nih.”
“Wah anak pertama yah, kayanya perempuan. Nampak dari wajah kaka.”
“Ah sok tau ni Abang, wong udah usg anak gw laki-laki tulen, hhehe.” Aku
ketawa dalam hati, karna ni Abang begitu PD nya, menilai hanya dari bentuk
wajahku. “oh iya ya Bang, masa sich, tapi doain aja laki-laki ya Bang.” Tetap
ku merendah hati, karna tak tega menghancurkan ke PD annya. Selama perjalanan
pulang rasa mules kembali hebat mengguncang perutku, tapi masih bias kutahan
dengan mengobrol dengan si Abang yang polos dan baik itu, aku melewati
perumahan kampung, dan hampir setiap rumah dihiasi aneka macam pohon hias, dan
tanaman bunga.
Sesampainya dirumah. Dia pun meluncur menghilang dari pandangan, aku
langsung tancap gas buru-buru menuju singgasana memuaskan si pengguna alias
Toilet mungkin itulah surganya bagi yang mau buang hajat apalagi kebelet luar
biasa seperti yang kurasakan. Aku sudah tak menghiraukan lagi, barang belanjaan
yang berada di depan pintu belakang rumah geletakan begitu saja.
“bu baru pulang waduuh hati-hati bu, ko buru-buru” spontan sang Asisten.
“aduuuh iya nih…tolong rapiin ya nur…”
Rumah kami punya 2 pagar dan 2 pintu, depan dan samping, kami punya
halaman yang lumayan luas untuk 2 parkir mobil, untuk ukuran pasangan muda yang
baru menikah rumah itu terlihat luas, tapi aku harus tinggal campur dengan
keponakan dan ade ipar, satu lagi pembantu sang asisten yang setia menemaniku
di rumah.
“Assalamualaikum….aduh udah ga tahan ni mau pub….” Aku masuk kamar yang
memang sudah ada kamar mandinya, kulihat abang tersayang sedang duduk bersender
nonton tv.
Plung “Ah….leganya” tentu celoteh dalam hati, tidak mungkin terucap, malu
ah sama Abangkyu.
Lagi-lagi mules hebat, aku masih
terus sibuk, karna beberapa hari yang lalu, ku pesan lontong 20 batang pada ibu
yang biasa jual nasi uduk, tempatnya tak jauh dari komplek, sekitar 50 langkah
dari rumahku. “akung mau kemana lagi, tapi kan baru pulang…hati-hati jangan
lariii..”sesegera mungkin sambil pegang perut gendut ini. “iya bang nanti yah
mau ambil pesenan Lontong nih.”
Akupun langsung bergegas mengambil kerumahnya, baru beberapa langkah
menuju rumahnya, mules itu datang lagi, syukurlah struktur jalanan yang turunan
memudahkan langkahku semakin cepat dan tetap hati-hati pasti.
Sepulang dari ngambil lontong, aku merapikan tanaman dari tetangga yang
sengaja kupinta semalam, suami ku tercinta menyapa. “Mia,…Mia Mia ngapain…abang
pikir. ngambil lontong, ya ampuun udah lah itu nanti aja, makan dih udah siang
nih, cape tuh kan.”
“Iya bentar Abang, tanggung nih, dapat gratisan nih tanaman, ok baguskan,
dikit lagi juga selesai.” aku terlihat sibuk namun seneng banget secara bunga
cantik dan gratis pula dapatnya.
“Yaudah, cepetan yah…Abang tungu dikamar, Yu.”
Terdengar geli tapi aku suka kata yuk, isyarat minta dilayani segarnya
laut biru nan cerah di pagi hari, Aku hanya tersenyum dan berharap dia
mengulangi kata itu lagi, satu kata yang buatku, melanglang buana ke negeri
pelangi seperti dongeng dulu.
“Iya Abang bentar nih, lagian Mia belum sholat Zhuhur, emang Abang
udah..”
“Udah dong, hampir setengah dua loh ini,”
“Masa sich, pantesan perut udah keroncongan, aduh bang kenapa mules lagi
yah, tadi udah berenti, eh udah pub eh ada lagi, berenti, sekarang ada laginih
mulesnya kenapa yah?”
Aku merasa ada yang ga beres, saat menemani Nur tadi ga mules, baru masuk
ke kamar mules itu datang lagi, bertambah sering dan dibarengi pegal yang amat
sangat di pinggul belakang, bawah, samping pokoknya merata, perut seperti di
gempit dua orang, rasanya ngilu sekali.
“Yah Mia, bisa ga, Abang udah mau dari tadi, pake nunggu lagi, ngantuk
ini abang, tapi bentar aja yuk.”
“yuk sayangku…”
“Hihi jadi ga tega yaudah, udah berenti lagi kok, pasti gara-gara makan
sambel nih tadi, perut agak panas, ok ok Abang, bentar Mia mau pipis dulu yah,
“
Saat keluar, tangannya yang lebar menunjukan lelaki Sumatra yang kokoh
itu pun meraih tubuh ku, dan aku jatuh duduk di tempat tidur kami, wajahnya
seketika merapat tepat di sekitar pipi, kening terus sampai dagu. Tak lupa
berdoa agar terhindar dari campurtangan syetan. Dan terjadilah ……
Setelah selesai fata morgana seperti melihat matahari terbit yang sangat
indah di ufuk penuh dengan pelangi. Setelah selesai menunaikan tugas seorang
isteri seperti biasa mencium kening ini dan mengucapkan “Istirahat ya Umi akung,
Abang juga mau istirahat nih.”
Kalau sudah terlampiaskan segala emosi pria sejati, baru deh nyerah dan
tertidur pulas, tapi aku merasa tenang dan senang karna telah melayani suami
yang sangat aku cintai, ku peluk kepalanya, dan ku kecup keningnya.
“ Bobo ya sayangku nanti Mia bangunin, jam setengah lima.”
“Iya, bobo bentar aja. Abang juga mau cuci mobil tuh’”
Waduh mules itu datang lagi, seketika saja aku berpikir apakah ini yang
namanya kontaraksi, yang sering ku baca di majalah, hal semacam ini merupakan
tanda-tanda ingin melahirkan. Tapi aku belum pecah ketuban, dan yang kutahu
setelah pecah ketuban hanya berselang beberapa menit biasanya si ibu sudah bisa
melahirkan, memang tergantung kondisi janin dan ibu itu sendiri.
Hari semakin sore, mules yang semakin menjadi lalu hilang lagi, tapi
tidak menyulutkan aku untuk menyetop tukang bakmi yang lewat setiap sore. Abang
pun sudah berada diluar kamar terlihat telah siap sholat ashar dan ingin segera
mencuci mobil. Aku makan bakmie dengan lahap, sambal dengan kuah cirikhas lemak
ayam nikmatnya membuat dahiku mengeluarkan butiran keringat.
“Mia makan lagi sayang, oh kecapaian yah,
Abang cuci mobil dulu yah.”
Dia menggodaku dengan menyindir, karna sedang melihat isterinya yang
lahap menyantap, semangkok bakmie, “full
dan kenyangnya Mantab bah”.
Menjelang magrib kuyakinkan ini adalah kontraksi tanda ingin melahirkan,
Tapi sekejap hilang lagi, aku masih bisa menahan rasa sakit di daerah pinggul,
karna pikirku mau pub jadi perasaan itu biasa saja,malah masih bisa sholat
dengan khusu’.
Setelah sholat dan berdoa untuk calon bayiku, aku kembali kontraksi namun
serasa ada yang mengganjal di sela-sela pakaian dalamku, ku seka dengan celana
ternyata ada darah yang melekat.
Aku masih ragu ini bertanda melahirkan, padahal aku tahu ini gejala aneh,
rasa sakit di daerah pinggul menghebat, mulas itu silih berganti, dan
berjenjang waktu dikala ia berhenti, yang tadi beberapa jam mules itu datang
kini berganti semakin cepat, dan hanya berselang menit, limat menit sekali
mules itu datang, dan akhirnya tiga menit sekali, aku langsung bilang ke Abang,
kalau ini aneh mulesnya tidak berhenti bahkan sering muncul, dan hanya
berselang menit. Tapi jawabnya.
“Bang perasaan ini aneh, mulesnya ga berhenti nih, ada flek lagi, gimana
yah?”
“Jangan pake perasaan, kan masih lama kata Dokter, lagian belum pecah
ketubannya.”
Dasar laki-laki, andai rasaku rasa
mu kaya lagunya keris patih, udah gw nyanyiain nih buat luh, ga tau apa,
mulesnya ngangujubile astagfirullkah nih
Suami ku yang barusan kulayani, subhanallah keasyikan nonton bola sampe lupa
kalau isterinya kesakitan mules dari pagi. Sekejap ku ingat pesan mama dan
mertua, mama ku juga tidak pecah ketuban duluan saat dulu melahirkan aku,
mertua juga sama, akhirnya kuputuskan menelfon mertua. Ditengah-tengah menahan
rasa mules yang amat sangat itu, aku menelfonnya.
“Assalamualaikum, mah, lagi ngapain”
“walaikum salam…ga lagi ngapa-ngapain, lagi maen game depan computer
nih.”
“Mia mau Tanya nih, Mia udah keluar flek tapi belum pecah ketuban, tapi
nih mulesnya, jadi sering, tuh kana duh…lumayan sakit sih.”
“Sakit yah, yaudah langsung ke dokterlah itu, cepet,udah disiapin kan perlengkapan
bersalinnya.”
”Emang sakit sih, iya mia inget
mama pernah bilang, kalau udah flek langsung ke dokter aja, tapi Abang bilang
jangan pake perasaan, emang belum tepat ama perkiraan dokter sih.”
“Alah si Abang tuh tau apa, kan
kita yang ngerasain, mana si Abang mama yang bilang.”
Tanganku langsung memberikan Hp ke suami yang tak tahu sakitnya
kontraksi.
“SIR, si Mia udah mau melahirkan itu, cepatlah kau bawa keDokter, udah
siapkan semuanya, jangan lupa baju bajunya juga.”
“oh yaudahlah kalau begitu, Nasir bawa aja yah ke Rs Bersalin Sarah Medan
kata Temen Bagus.”
“Kabarin mama yah, nanti.”
“Iya ya mah kami berangkat yah.udah dulu yah mah, Assalamualaikum.”
“Hati-hati SIR’ walaikumsalam.”
“HUUUH DASAR ANAK LAKI-LAKI KALAU MAMANYA AJA LANGSUNG GERAK CEPAT.”
Astagfirullah syetan membisikkan yang aneh-aneh, “makasih ya mah” bisikku.
Nasir langsung memanaskan mobilnya, dan aku menyiapkan diri seadanya, sudah
dari sebulan lalu, perlengkan bersalin ku siapkan, sampai baju bayinya, aku
menyusun sampai, 2 tas besar.
Selama di perjalan sakit itu malah menjadi-jadi, kami melewati 3 kali
lampu merah membuatku menahan rasa sakit yang begitu bergejolak, seprti dipukul
martir terus perut di ubek-ubek mulesnya. antara senang terharu, sakit luar
biasa sampai ingin rasanya teriak, itu tidak mungkin, bagus lah punya suami
yang siaga di rumah, dan Nasir menghiburku selama perjalanan.
“Pake lampu merah segala lagi.”
Lontarku perih menahan rasa sakit, Si abang malah berceloteh gaya
Medannya yang khas dan buat aku terpingkal-pingkal.
“Iya terus-terus tarik napas, tahan buang, dari bawah, hehehe, sabar ya
nak, sabar pelan-pelan BAH!”
“Jadi mau ketawa denger abang ngomong batak.“
Tapi lisanku memerih teringat mamah. “Ampun Mah, Mia banyak dosa nih
Ampun, begini toh rasanya, oh Tuhan AMPUN, Mia nyesel pernah ga nurut sama
mama, Mia nyesel oooow sakit Mah Mia, minta ampun Mah….” Aku menangis kesakitan
dan tersentak ku menyesali semua tingkah lakuku yang membuat mamah marah dulu. Beginikah
rasanya kontraksi, seperti ada yang menusuk perutku dari dalam, mules luar
biasa, bukan main.
Sepanjang jalan Abang terus berzikir antara senang dan was-was, tak
jarang dia mengulangi untuk bersenda gurau disela Lampu merah, nah ini sudah
lampu merah yang ke 4 hampir tiba di Rumah Sakit. Akhirnya sampai juga di Rs
Bersalin Sarah Medan. Aku masih menunggu di mobil, Abang berlari tampak
kebingungan, karna sudah gelap dan sepi diluar RS, “Tolong mas isterinya mau
melahirkan”.” Nanti pak aku ambilkan kereta dorong dulu”. “ Aaahh sakit nih
bang mana dia sih, ko lama manggil nya, alah tuh pake kasur dorong itu,
kelamaan ah” Aku langsung turun dengan tergopoh-gopoh menahan rasa mulesnya.
Langkah pelan tapi pasti terus lanjut ke ruang bersalin di Bantu oleh sang
suami.
Waktu sudah menunjukan jam delapan lewat lima belas menit, Aku sudah
duduk dengan posisi miring. Memang sudah berada di kamar bersalin.namun harus
menunggu Dokter yang masih jalan-jalan di Mal, kata perawat yang jaga malam
itu, malam Idul Adha mungkin, tak apalah buatku. Suster yang menemaniku mencoba
menghibur sambil menunggu Dokter Cut Mutia itu datang, Alhamdulilah aku
ditangani Dokter wanita seperti harapanku. Suster itu memastikan sudah sampai
pembukaan berapa, diapun sudah mantab bisa memastikan aku di posisi Pembukaan
ke sekian. Dengan terkejut mengatakan padaku karna aku ternyata sudah pada
pembukaan sepuluh, hanya tinggal mengejan dan janin siap di keluarkan.
“Wah ini dikit lagi ko’ tapi tarik napas terus ya bu’, jangan mengejan
dulu, tunggu abaa-aba dari Dokter, nanti juga dikasih tau.”
Mengejan itu maksudnya “ngeden seperti buang hajat. Kudengar Suster itu
berbisik sama kawannya yang akan membantuku melahirkan juga, namun suster yang
ini agak judes, lebih tepatnya tegas aku ga suka nada suaranya yang memekak
telinga, bataknya, mantab keras. Bikin sakit kuping.
“Termasuk hebat ibu itu, sama sekali ga ribut sepanjang dibawa kesini,
padahal anak pertama.”
“Iyah, aku juga lihat dia, masih bisa jalan kekamar mandi tadi padahal
udah pembukaan sepuluh, ga teriak-teriak lagi, kemaren aku hampir budek denger
ada ibu-ibu, teriak kenceng banget, tapi yang ini ga’, heran juga aku yah,
termasuk kuat ibu ini.”
Aku mulai tenang, karna ke dua suster ini menambah keyakinan, kalau aku
termasuk beruntung, masih di berikan kekuatan untuk melahirkan, dan sampai
pembukaan sepuluh rasa sakit itu, hanya pas di mobil dan selama perjalanan
saja, coba dari pagi tadi waduh munkin udah beranak di Pasar”WAKAKKAAA”.
“Sus, udah boleh mengejan belum udah ga tahan nih mules banget ADDUUUH.”
Bunyi pintu itu membut khawatirku hilang, Sang Dokter mancung berasal dari Aceh
itu datang juga, hei kulihat dia mengenakan Jilbab, Wah makin tenang aku di
buatnya.
“Bagaimana bu, udah siap, kira-kira masih mau pipis atau pub ga, coba ibu,
kekamar kecil dulu untuk memastikan.”
“Udah Dok barusan tapi ga keluar sama sekali tuh, udah ga tahan mules nya
nih.”
“oh ok, coba aku lihat dulu yah,”
Dia merogoh, untuk memastikan.
“Ok nih bisa kita mulai, perhatikan Aba-aba dari aku, tunggu sampai mules
itu datang baru ibu mengejan yang kuat, yah inget yah bu, kuaaaat sekali, buat
ngedorong anak ibu lahir nanti.”
Aku dan suami mengalami kejadian luar biasa dimana detik-detik itu mulai
terasa lambat bahkan terasa berhenti, Abang tak melewatkan sedetikpun dia terus
bersamaku. Menemaniku, berdiri di sebelahku, memegang kepala dan sangat
membantu secara emosional. Dia terus berdoa melafazdkan zikir serta doa kepada
Sang Khalik, Allah Swt.
Aku terus meyakini diri, bahwa rasa sakit apapun pasti disesuaikan dengan
kemampuan kita sebagai manusia. Aku puin terus berdoa, sambil memantabkan
kekuatan terutama kekuatan fisik selama proses itu.
”Dok udah mules banget nih. Aduh… Ya Allah…”
Dokter itu langsung menyiapakan peralatan, dan seketika dia mengeluarkan
gunting dan langsung merobek daun vagina ”skrechk”, rasa sakit saat robekan itu
terjadi tidak ada sama sekali, tapi rasa sakit mules masih tetap luar biasa.
Suster yang lainpun tak kalah sibuknya, segera menyiapkan peralatan untuk sang
bayi yang nanti lahir.
“Ya ampun Dok, udah boleh mengejan belum, ga tahan nih, Aduh bang….ampun
deh rasanya….mules baneeeeet.”
“Tarik napas, Mia abang di sini kan, ayo, Ya Allah, ya Allah mudahkan Ya
Allah.” Bibirnya tak berenti berzikir.
“Bu, kalau mengejan jangan diangkat yah, pinggulnya. Saat mules mengejan
sekuat-kuatnya yah,”
“Iya Dok, ilang lagi nih mulesnya, aduh smoga nanti hidungnya kaya Dokter
yah, mancung..” Aku masih bisa bergurau, sang Dokterpun tertawa geli, si ibu
masih bisa becanda pada pembukaan sepuluh. Dia geleng kepala, suamikupun
tersenyum.
“Dokter, mules nih…aduuuuuh..ngehhh…ya Allah…ngehhhhngehh..”
Aku langsung mengejan sekuat tenagaku, ku keluarkan semua tenaga yang
tersimpan di tubuh, iya semuanya sampai keringat terus membasahi sekujur
tubuhku, suami terus menyeka keringat yang terus membanjiri sambil memegang
palaku sekuat tenaganya, karna kepalaku harus ikut terangkat untuk memastikan
posisi dagu menempel ke dada, dan itu memudahkan sang ibu, mengejan sekuat
tenaganya menurut Dokter.
“Nah terus bu kepalanya udah kepegang nih, iya terus, yang kuat dorong
iya bagus, iya terus bu bagus, sekali lagi, dikit lagi tarik napas bu, yang
kuat teruuuus iya,iya….”
“ngehhhh…..ngeeeehhhh….” Aku terus mengejan sampailah pada ke tiga kali,
ada yang buatku tersenyum agak lucu memang si suter, sang suster yang judes
itu, tak sabar karna aku menurutnya kurang kooperatif, aku kurang semangat
mengejan, padahal udah abis-abisan.
“Bu, hayo bu sedikit lagi, gimana si ibu ini udah berkurang tenaganya,
yang kuat bu.” Tangannya, langsung mendorong perutku dari bawah dada dia
mendorong kuat sekali dan …
”plugh plugh…pluesssss…” Lega rasanya, mengejan kelima kali membawa
anakku melihat dunia ini. Entah lima atau empat yang pasti tak lama, suster itu
mendorong, ternyata dorongannya mampu mengntarkan kemudahan.
“wuih…..Alhamduulilah…wufh…Alhamdulilah….Ya Allah.”
Wajah mungil itu sudah ada di atas dadaku, matanya mirip Ayahnya, lesung
pipinya, mewarnai wajahnya yang super imut ya Allah ada lesung pipi lucunya.
Kepalanya sudah bisa dia balikan dengan reflek, wah sungguh menakjubkan, aku
terharu sekali bersyukur pada Allah yang maha tahu Setiap kelemahanku, tapi ini
belum selesai, aku harus menjalani nyeri kembali karna harus menerima jahitan,
tapi setelah ada wajah itu aku tak menghiraukan rasa sakit yang tak seberapa,
oh anakku dia, menggemaskan, wajahnya lugu tanpa dosa, aku terus menangis
terharu, Wajah Suamikupun sama, tak lama dia membisikkan puji syukur dan Azan
untuk Buah hatinya, Diapun terharu, Dia terus menatap tak bosan sama sekali.
“Ya Ampun, Lihat Mia, lucu banget yah, ada lesung pipinya,
Subhanallah…alhamdulilah Ya Allah, Abang jadi terharu nih.”
Suamiku, tak bisa menahan harunya aku yakin, dia merasa senang sekaligus
puas sekali, terlebih lagi anak pertama adalah laki-laki sama seperti
harapannya.
Ku beri nama ia Fathan Ifni Adha Lubis.
Nama dari opungnya, Ifni untuk menunjukan rasa terimakasihku, karena Opunyapun
sudah meninggal.aku harap Fathan dapat terus mengenang opungnya yang baik budi.
Juga abahnya yang sama juga baiknya. Abah Mursidi yang telah merawat dan
mendidikku. Abah yang pernah menggendongku selama berminggu-minggu karena aku
sakit tipes dan sengaja dirawat dirumah, Abah yang sangat setia pada keluarga
dan sabar merawatku.
Cinta
Lahirnya Fathan Bertambahlah Cintaku pada Mu ya Rabb

